Tuesday, May 8, 2012

AKHLAK MAHASISWA



BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Mahasiswa merupakan Sumber  Daya Manusia yang dipersiapkan untuk mengabdi di masyarakat, mereka menempuh studi di Perguruan Tinggi bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di masyarakat.

Dalam menuntut dan mengembangkan ilmu di perguruan tinggi, tentu mahasiswa juga terikat dengan peraturan-peraturan yang diterapkan di perguruan tinggi. Dan mahasiswa mampu menyesuaikan perilaku (akhlak) sesuai dengan peraturan, peratuan tersebut bukan hanya yang bersifat tertulis yang biasa tertulis dalam sebuah tata tertib perguaruan tinggi, tetapi juga meliputi adat kebiasaan (moral) serta tidak lepas pula dari segi etika dan agama. Dalam berperilaku apakah mahasiswa dan dosen di lingkungan kampus sudah berakhlak baik? Untuk menjawab semua itu maka akan diuraikan lebih lanjut tentang akhlak di lingkungan kampus menurut agama, etika dan moral.


BAB II
PEMBAHASAN

Akhlak mahasiswa jika ditinjau dari segi agama tidak terlepas dari Al-qur’an dan sunnah sebagai sumber  agama islam. Jadi ukuran baik buruknya akhlak berlandaskan kedua sumber islam tersebut. serta jika ditinjau dari etika akhlak dapat dinilai dengan akal pikiran, maksudnya sesuatu perbuatan dapat dinilai baik buruknya oleh akal pikiran[1], akal pikiran menilai baik buruk berdasarkan pengalaman yang dialami kemudian diolah menurut kamampuan pengetahuannya, akal pikiran hanya bisa menilai secara spekulatif dan objektif. Sedangkan akhlak jika ditinjau dari segi moral, baik buruknya suatu akhlak atau perbuatan tergantung pada budaya dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat (nilai adat). Maksudnya penilaian terhadap baik buruknya seseorang tergantung masyarakat yang  menilai, apakah sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat atau tidak, tapi hal ini sangat relatif mengingat budaya dan nilai-nilai antara suatu kelompok masyarakat dengan masyarakat lain berbeda. Dari uraian yang telah dipaparkan, maka jelaslah bahwa penilain baik buruknya akhlak jika dipandang dari segi etika dan moral bersifat spekulatif, sedangkan jika ditinjau dari segi agama ukuran baik buruknya akhlak bersifat pasti.

Oleh karena itu, akhlak mahasiswa harus sesuai dengan apa yang ada dalam kedua sumber  pokok agama islam. Namun akhlak mahasiswa juga tidak terlepas dari etika dan moral yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam hal ini akan menjelaskan beberapa akhlak mahasiswa yang berkaitan dengan lingkungan kampus.

1.                  Akhlak mahasiswa terhadap dosen

Dalam kehidupan akademik di lingkungan perkuliahan, mahasiswa tidak terlepas dengan bergaul dengan dosen. Seperti:

Menegur sapa terhadap dosen

Realitas sekarang ini banyak dari mahasiswa yang melupakan hal ini, padahal dalam bertegur sapa atau mengucapkan salam termasuk yang ada dalam syari’at islam, seperti sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:



Rasulullah saw. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak. (Shahih Muslim No.4019)

Jadi atas dasar ini seorang mahasiswa pada khususnya dan umat islam pada umumnya dianjurkan untuk saling mengucapkan salam sebagai tanda saling menghoramati. Dan antara mahasiswa dan dosennya hal ini perlu diterapkan di lingkungan kampus dan dimana saja ketika berjumpa denga dosen.

Memperhatikan pada waktu pembelajaran

Ketika kegiatan perkuliahan sedang berlangsung mahasiwa seharusnya memperhatikan ketika ada dosen yang sedang mengajarkan suatu mata kuliah dan memperhatikan dengan seksama. Allah swt. berfirman:
t
Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (Q.S. Al-Kahfi(18): 70)

Hal ini pernah disinggung nabi dalam sabda beliau yang yang diriwayatkan jarir bin abdillah ra. : “Jarir bin Abdillah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda kepadanya pada waktu mengerjakan haji Wada', "Diamkanlah manusia!" Lalu beliau bersabda, "Sesudahku nanti janganlah kamu menjadi kafir, di mana sebagian kamu memotong leher sebagian yang lain." (H.R. Bukhori)[2].

Bertolak dari al-qur’an dan hadis ini seharusnya mahasiwa harus memperhatikakan hal-hal yang disampaikan oleh dosen. Tapi dalam realitas kenyataan banyak mahasiswa yang tidak memperhatikan ketika dosen sedang menjelaskan sesuatu, perbuatan seperti ini sebenarnya dapat menjadikan perbedaan pemahamam yang terjadi diantara mahasiswa. Jadi tingkat pemahaman mahasiswa tergantung pada tingkat perhatian mahasiswa terhadap penjelasan yang disampaikan.

Jangan terlalu banyak bertanya.

Maksud dari hal ini adalah mahasiswa jangan banyak bertanya kepada dosen jika belum berusaha untuk memahami suatu pelajaran yang diberi oleh dosen, jadi mahasiswa bertanya hanya dengan maksud untuk mempersulit dosen dalam menjawab pertanyaan, padahal hal ini akan membingungkan mahasiswa itu sendiri terhadap jawaban dosen tersebut. Hal serupa pernah ada di zaman Nabi Musa as., pada saat terjadi kasus pembunuhan di kalangan mereka. Mereka meminta kepada Nabi Musa as., agar dapat mengungkap kasus pembunuhan tersebut, dan Nabi Musa as. Memerintahkan kepada mereka untuk mencari sapi, tapi mereka tidak langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa., mereka malah menanyakan hal-hal yang mempersulit mereka sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 101:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Q.S. Al-Maidah: 101)

Jadi seorang mahasiswa janganlah bertanya akan sesuatu sebelum bberusaha memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Jika belum jelas dengan materi yang diberikan dosen berulah bertanya.

2.                  Akhlak mahasiswa terhadap sesama mahasiswa dan lingkkungan.

Jangan merendahkan orang lain

Sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dalam perkuliahan, ada mahasiswa yang menganggap dirinya paling pandai dalam kelas tersebut dan mengaggap mahasiswa lain ilmunya lebih rendah dari pada dirinya. Hal inilah harus dihindari oleh mahasiswa karena  sangat bertentangan dengan perintah kodrat manusia. Allah swt. Pun memuliakan manusia dengan menjadikan mansuia mahluk yang sempurna derajatnya. Dan Nabi saw. Berkata “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahakan orang lain”.

Memberi nasihat

Yang seharusnya dilakukan mahasiswa adalah belajar dan meraih cita-citanya. Jika ada mahasiswa yang nyeleweng maka hendaklah kita menasihatinya. Sesuai perkataan abu bakar Al-mazani: “ Yang membuat Abuk Bakar lebih tinggi (derajatnya) dari sahabat-sahabat yang lain bukanlah puasa atau solatnya siha karena suatu yang ada di dalam hatinya. Dan yang di dalam hatinya adalah kecintaan kepada Allah dan nasihat terhadap makhlukNya.”

Jadi tidak usahlah kita malu untuk menasihati teman kita selama apa yang kita lakukan menjadikan diri kita dan teman kita menjadi lebih baik. Hendaklah menasihati  teman secara tertutup, secara face to face agar tidak diketahui orang lain karena barang siapa menutupi keburukan teman maka Allah akan menutupi keburukan kita di dunia dan akhirat. Berikan nasihat kepada teman semampunya. Apabila terjaadi sebaliknya , orang yang dinasihati malah melawan bahkan sampai membahayakan diri kita maka kita boleh memilih untuk akan memberikan nasihat lagi atau tidak. Kemudian doakan semoga Allah sendiri yang menuntun teman kita agar menjadi orang yang lebih baik.

Melapangkan Ruang kelas

Dalam kehidupan mahasiswa tidak terlepas dengan diskusi-diskusi, baik dalam diskusi kelompok ataupun diskusi kelas. Yang akan disinggung dalam hal ini adalah sikap mahasiswa yang harus toleransi kepada sesama mahasiswa dalam berbagi ruang agar semua mahasiswa ikut dalam diskusi tersebut.

Mentaati Peraturan

Mahasiswa sebagai seorang civitas yang hidup di dalam lingkungan kampus tentu terikat dengan peraturan yang ada di universitas. Mahasiswa dituntut untuk mentaati peraturan yang telah ditetapkan oleh universitas, tetapi hal yang ada di lapangan lain. Diantara mahasiswa banyak melanggar peraturan yang telah dibuat. Padahal agamapun memerintahkan supaya taat terhadap peraturan. Allah swt. berfirman dalam surat An-Nisa ayat 59:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S. An-Nisa: 59)

Dalam peraturan (tata tertib) yang ada di universitas mencantumkan peraturan agar mahasiswa mematuhi peraturan yang dibuat oleh universitas. Misalnya yang tercantum dalam Tata Tertib Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Bab III tentang kewajiban mahasiswa pasal 3 (e): “Mematuhi segala peraturan yang berlaku di tingkat universitas, Fakultas, Jurusan, Program Studi, dan unit[3]”.

Peraturan yang ditetapkan oleh pihak kampus mencangkup berbagai aspek, salah satu aspek yang sering dilanggar oleh mahasiswa adalah aspek berbusana, misalnya pihak kampus telah menentukan busana yang boleh dikenakan di lingkungan kampus adalah pakaian yang sopan dan tidak ketat namun banyak dari mahasiswa yang menggunakan kaos, pakaian ketat bahkan celana yang sobek. Ironis memang kalau kenyataan dilapangan lain dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Dan hal seperti ini sangat bertentangan dengan moral dan etika sebagaimana yang tercantum dalam tata tertib mahasiswa tentang kewajiban khusus mahasiswa pasal 4 (c) “berpakain sopan, bersih dan rapi pada saat kuliah, praktikum, ujian, menemui dosen dan karyawan, serta kegiatan lain di kampus sebagaimana telah terlampir”[4]. serta hal serupa juga bertentangan dengan agama karena agama memerintahkan untuk memilih pakaian yang menutup aurat sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-A’raaf ayat 26:

Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”.(Q.S Al-A’raaf :26)

Ayat ini memerintahkan kepada manusia untuk menutupi aurat dengan pakaian. Namun hal ayat ini tidak membatasi seseorang dalam berbusana untuk mengikuti perkembangan zaman. Begitu juga dengan pakaian atau busana mahasiswa, mahasiswa mempunyai kebebasan dalam bertindak dan memilih busana yang tepat. Bukan berarti mahasiswa bebas secara mutlak dalam menentukan busana. Hal ini dibatasi oleh agama, etika serta moral  demi kelangsungan kegiatan perkuliahan.

Dengan lingkungan sekitar pun perilaku mahasiswa harus diperhatikan,jangan sampai perilaku mahasiswa tidak menjaga lingkungan misalnya dengan mencoret-coret dinding, bangku kuliah atau membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak menjaga fasilitas dan lain sebagainya yang dapat mengganggu kenyamana mahasiswa dalam belajar. Karena lingkungan kampus merupakan faktor yang sangat penting. Dengan adanya lingkungan yang nyaman dan bersih akan menimbulkan kenyamanan pada penghuninya serta dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar. Fasilitas yang telah disediakan kampus hendaknya dijaga dengan baik.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Akhlak mahasiswa harus sesuai dengan apa yang ada dalam kedua sumber  pokok agama islam. Namun akhlak mahasiswa juga tidak terlepas dari etika dan moral yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat.

Akhlak mahasiswa terhadap dosen: menegur sapa terhadap dosen, memperhatikan pada waktu pembelajaran, dan jangan terlalu banyak bertanya. Akhlak mahasiswa terhadap sesama mahasiswa dan lingkkungan: jangan merendahkan orang lain, memberi nasihat, melapangkan ruang kelas, dan mentaati peraturan

Daftar Bacaan

UIN Sunan Kalijaga, Tata Tertib Mahasiswa, (Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2010)
Imam Az-Zabidi, Terjemahan Mukhtasar Shahih Al-Bukhori, (Jakarta,Pustaka Amani,2002)
Prof. DR. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta,LPPI,2009)


[1] Prof. DR. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta,LPPI,2009) hal. 5  
[2] Imam Az-Zabidi, Terjemahan Mukhtasar Shahih Al-Bukhori, (Jakarta,Pustaka Amani,2002) hal. 56
[3] UIN Sunan Kalijaga, Tata Tertib Mahasiswa, (Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2010), halaman 7
[4] Ibid

No comments:

Post a Comment