Wednesday, November 7, 2012

Makalah Pendidikan Moralitas

BAB I
PENDAHULUAN

Makalah Pendidikan Moralitas - Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab II Pasal 4, dijelaskan bahwa: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmanidan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab ke masyarakatan dan bangsa”.  Makalah Pendidikan Moralitas

Ini merupakan salah satu dasar dan tujuan dari pendidikan nasional yang seharusnya menjadi acuan bangsa Indonesia. Fenomena yang kita saksikan bersama, pendidikan hingga kini masih belum menunjukkan hasil yang diharapkan sesuai dengan landasan dan tujuan dari pendidikan itu. Membentuk manusia yang cerdas yang diimbangi dengan nilai keimanan, ketaqwaan dan berbudi pekerti luhur, belum dapat terwujud. Gejala kemerosotan nilai-nilai akhlak dan moral dikalangan masyarakat sudah mulai luntur dan meresahkan. Sikap saling tolong-menolong, kejujuran, keadilan dan kasih sayang tinggal slogan belaka. Krisis akhlak pada elite politik terlihat dengan adanya penyelewengan, penindasan, saling menjegal atau adu domba, fitnah dan perbuatan maksiat lainnya.


Pada lapisan masyarakat, krisis akhlak juga terlihat pada sebagian sikap mereka yang sangat mudah merampas hak orang lain, misalnya menjarah, main hakim sendiri, melanggar peraturan tanpa merasa bersalah, mudah terpancing emosi, mudah diombang-ambingkan dan perbuatan lain yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Kemerosotan nilai-nilai moral yang tadinya hanya menerpa sebagian kecil elite politik dan sebagian masyarakat yang lebih tepatnya padaorang dewasa yang mempunyai kedudukan, jabatan, profesi dan kepentingan, kinitelah menjalar pada masyarakat kalangan pelajar. Banyaknya keluhan orang tua, guru, pendidik dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang keagamaan serta pengaduan masyarakat sosial umumnya, yang berkenaan dengan ulah sebagian pelajar yang sukar dikendalikan, nakal, sering bolos sekolah, tawuran, merokok, mabuk-mabukan dan lebih pilu lagi sudah memasuki dunia pornografi.Pada saat ini sudah menjadi kenyataan timbulnya kemerosotan nilai akhlak generasi muda atau kalangan pelajar, yang pada prinsipnya adalah karena mereka tidak mengenal agama, tidak diberikan pengertian agama yang cukup, sehingga sikap dan tindakan serta perbuatannya menjadi liar.  Adanya sikap, tindakan dan perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini bila dibiarkan terus, maka tak ayal lagi kalau generasi mendatang akan diliputi kegelapan dan hancurnya tatanan perikehidupan umat manusia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Dalam Undang-undang RI. Nomor 20 tahun 2003 (pasal 1 ayat 1) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan hidup yang pada era globalisasi seperti sekarang ini merupakan media untuk meningkatkan pengetahuan, keilmuan bahkan taraf hidup. Sebagai media yang memiliki fungsi sebagaimana tersebut di atas, pendidikan tentu saja menjadi hal yang sangat penting, mengingat pola kompetisi yang kian kompleks saat ini. Dalam memperoleh pendidikan, saat ini sudah banyak sekali berdiri lembaga-lembaga pendidikan dengan tenaga-tenaga pendidik yang kualitatif dan berkompeten dalam bidangnya.

Sekolah, baik itu mulai dari tahap Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, maupun Sekolah Menengah Kejuruan, merupakan lembaga pendidikan formal yang kiranya menjadi wajib dijalani oleh setiap orang sebagai prasyarat untuk menempuh jalur pendidikan tinggi, sebagai wadah/lembaga pembentukan karakter maupun budaya hidup, dan bahkan prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan.

Dalam perkembangan penyelenggaraan pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan/sekolah terus-menerus mengembangkan kurikulum pendidikan agar penguasaan keilmuan dan pengetahuan bagi para siswa menjadi semakin meningkat, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Namun pengembangan kurikulum tersebut sepertinya terlalu terfokuskan pada bidang-bidang teori keilmuan saja, padahal yang sangat tidak kalah penting dan bahkan menjadi modal dasar penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan adalah pendidikan moral.

B. Moral
Secara etimologi istilah moral berasal dari bahasa Latin mos, moris (adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak). Banyak ahli menyumbangkan pemikirannya untuk mengartikan kata moral secara terminologi.
  1. Kamus besar bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai keadaan baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan susila. Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. Kata morla sendiri berasal dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara dalam kehidupan, adat istiadat dan kebiasaan.
  2. Dalam terminology Islam, pengertian moral dapat disamakan dengan pengertian “akhlak” dan dalam bahasa Indonesia moral dan akhlak maksudnya sama dengan budi pekerti atau kesusilaan.

Kata akhlak berasal dari kata khalaqa (bahasa Arab) yang berarti perangai, tabi’at dan adat istiadat. Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu perangai (watak/tabi’at) yang menetap dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah dan ringan tanpa dipikirkan atau direncanakan sebelumnya.

Pendapat lain yang menguatkan persamaan arti moral dan akhlak adalah pendapat Muslim Nurdin yang mengatakan bahwa akhlak adalah seperangkat nilai yang dijadikan tolok ukur untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau suatu sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia. Dengan demikian pengertian moral dapat dipahami dengan mengklasifikasikannya sebagai berikut :
  1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meningalkan perbuatan jelekyang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
  2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau sebaliknya buruk.


C. Pendidikan Moralitas
Pendidikan moralitas adalah pendidikan yang menjadi pelapis paling dasar bagi pembentukan karakter seseorang yang nantinya akan mengarahkan bagaimana orang tersebut mengaplikasikan ilmu yang didapatnya secara arif dan bijaksana. Selain itu, pendidikan moralitas dapat membantu seseorang lebih survive menghadapi segala badai yang menerpa kehidupan dan pekerjaannya.

Salah satu pilar dalam pendidikan moralitas adalah kejujuran. Kejujuran adalah modal dasar seseorang untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keilmuannya menurut kemampuannya secara idealis dan mengikuti aturan yang ada. Dapat dilihat dewasa ini bahwa banyak orang yang tidak dapat mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya secara wise, dan bahkan melanggar aturan agama maupun peraturan perundang-undangan. Sebagai contohnya, para elit politik yang duduk sebagai wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang seharusnya menggunakan keilmuan dan pengetahuannya demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat malah melakukan korupsi besar-besaran. Sebagaimana contoh tersebut memperlihatkan adanya fakta terdegradasinya moral, hilangnya budaya malu, keingkaran terhadap aturan agama, bahkan kehilangan atas idealisme dan kejujuran.

Lembaga-lembaga pendidikan/sekolah, sebagai wadah pembentukan karakter dan budaya hidup bagi para calon cendekiawan dan ilmuwan seharusnya sangat menekankan pengajaran moralnya pada budaya kejujuran. Namun sangat disayangkan bahwa apa yang bisa kita dapatkan sekarang ternyata masih adanya fenomena tindakan/sikap anak didik yang jauh dari kejujuran. Seperti contohnya adalah mencontek saat ujian, plagiatisme, dan lain-lain.

Pendidikan moralitas dapat disampaikan dengan metode langsung atau tidak langsung. Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara langsung pada ajaran tersebut melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan mengucapkannya. Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan untuk mengembangkan perilaku yang baik bagi anak didik.

Pendidikan moralitas hendaknya terjadi dalam keseluruhan proses pendidikan, seperti di kelas, dalam kegiatan ekstra kurikuler, dalam proses bimbingan dan penyuluhan, dalam upacara-upacara pemberian penghargaan, dan dalam semua aspek kehidupan. Contoh-contoh mengenai hal tersebut misalnya tercermin dalam kegiatan yang dilakukan oleh siswa seperti belajar kelompok, penggunaan bahan-bahan bacaan dan topik-topik tulisan mengenai kebaikan. Penggunaan klarifikasi nilai dan dilema moral, pemberian teladan tidak merokok, tidak korupsi, tidak munafik, dermawan, kejujuran, menyayangi sesama mahluk ciptaan Tuhan, dan lain 
sebagainya.

Pendidikan yang merupakan satu cara yang mapan untuk memperkenalkan pelajar (learners) melalui pembelajaran dan telah memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk menerima dan mengimplementasikan alternatif-alternatif baru untuk membimbing perkembangan manusia.  Dengan integrasi antara pendidikan dan pengajaran diharapkan memberikan kontribusi bagi perubahan nilai-nilai akhlak yang sesuai dengan tujuan pendidikan dalam menyongsong hari esok yang lebih cerah.

Pendidikan moralitas bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, melainkan tanggung-jawab seluruh guru bidang studi. Guru bidang studi lainnya juga harus ikut serta dalam membina akhlak para siswa melalui nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada seluruh bidang studi. Melekatnya nilai-nilai ajaran agama pada setiap mata pelajaran atau bidang studi umum lainnya yang bukan pelajaran agama mempunyai nilai yang sangat penting dalam upaya mengembangkan nilai keagamaan pada anak didik. Melalui mata pelajaran umum selain siswa dapat memperlajari substansi, prinsip-prinsip dan konsep-konsep dari ilmu pengetahuan itu, diharapkan juga ada dimensi nilai yang terkandung dalam pendidikan itu.

Dalam pembelajaran siswa mempunyai kewajiban agar mentaati peraturan tertulis, etika, adab sopan santun dan norma-norma umum lainnya. Selain itu siwa dapat belajar untuk lebih mencintai lingkungan, baik di sekolah, keluarga atau masyarakat. Melalui pendidikan bidang studi lainnya, siswa juga dapat lebih memahami betapa agung dan perkasanya Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya yang berjalan dengan tertib, sesuai dengan hukum-hukum Allah (sunnatullah) yang juga disebut hukum alam. Siswa akan menyadari bahwa apa yang terjadi di alam semesta ini pada dasarnyaberasal dari Yang Maha Mencipta. Inilah pendidikan mata pelajaran bidang studiumum sebagai contoh yang menjadi wahana untuk pendidikan nilai-nilai agama.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pendidikan moralitas adalah pendidikan yang menjadi pelapis paling dasar bagi pembentukan karakter seseorang yang nantinya akan mengarahkan bagaimana orang tersebut mengaplikasikan ilmu yang didapatnya secara arif dan bijaksana. Selain itu, pendidikan moralitas dapat membantu seseorang lebih survive menghadapi segala badai yang menerpa kehidupan dan pekerjaannya.

Pendidikan moralitas bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, melainkan tanggung-jawab seluruh guru bidang studi. Guru bidang studi lainnya juga harus ikut serta dalam membina akhlak para siswa melalui nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada seluruh bidang studi. Melekatnya nilai-nilai ajaran agama pada setiap mata pelajaran atau bidang studi umum lainnya yang bukan pelajaran agama mempunyai nilai yang sangat penting dalam upaya mengembangkan nilai keagamaan pada anak didik. Melalui mata pelajaran umum selain siswa dapat memperlajari substansi, prinsip-prinsip dan konsep-konsep dari ilmu pengetahuan itu, diharapkan juga ada dimensi nilai yang terkandung dalam pendidikan itu.

Sumber Bacaan :
Drs. Ary H. Gunawan, Kebijakan-Kebijakan Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1995
Drs. Moh. Saifulloh Al-Aziz, Milenium Menuju Masyarakat Madani, Terbit terang, Surabaya, 2000
Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002

1 comment:

  1. Nice artikel.. boleh saya minta beberapa paragraf yah..

    ReplyDelete